Apakah Setiap Malam Minggu Semua Orang Harus Bersama Pasangannya?
By
konde
perspektif
Mengapa setiap malam minggu selalu ada pertanyaan: mau pergi kemana dengan pasanganmu? Bayangkan saja, ada berapa malam minggu dalam setahun? Bisa dihitung khan dalam setahun ini, berapa kali kami harus menjawab pertanyaan: akan kalian habiskan kemana malam minggu ini? Atau kalimat: malam minggu kemarin kalian pergi kemana dengan pasanganmu?
*Almira Ananta- www.Konde.co
Apa bedanya antara sabtu malam minggu yang dihabiskan di dalam rumah atau di luar rumah? Buat saya ini tidak ada bedanya.
Saya selalu senang menghabiskan sabtu malam dengan keluar kota, membaca di rumah, sesekali pergi menonton film atau menghabiskan waktu bepergian bersama teman. Jadi tak ada bedanya antara menghabiskan waktu di dalam maupun di luar rumah. Yang lebih penting, adalah dalam seminggu, ada 2 hari dimana bisa mengosongkan otak untuk berpikir keras soal pekerjaan yang biasanya menyita waktu kami selama 5 hari dalam seminggu.
Sebagai pekerja, sabtu dan minggu adalah hari yang bisa memanjakan kami. Maka ini adalah hari dimana saya punya banyak waktu untuk istirahat.
Namun banyak teman perempuan saya yang dipojokkan dengan istilah “sabtu malam” ini. Selama ini ada mitos bagi perempuan yang menyebutkan bahwa sabtu malam selalu identik dengan: perempuan harus pergi keluar bersama pasangannya. Jika tidak, maka ia akan dianggap tak punya pasangan, tak punya pacar, dan mendapat stigma sebagai orang yang kesepian.
Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan: kemana malam minggumu ini, sudah sering saya dengar sejak kuliah dulu. Bagi perempuan, ini sesuatu yang membuat kami sebal untuk menjawabnya. Mengapa orang lain selalu mempersalahkan perempuan yang tak punya pasangan? Tidakkah orang bisa diam saja dengan apa pilihan-pilihan perempuan muda seperti kami?
Dan ternyata ini tak hanya terjadi ketika kuliah, ketika sudah lulus dan bekerjapun, pertanyaan ini selalu ada setiap malam minggu tiba. Bayangkan saja, ada berapa malam minggu dalam setahun? Bisa dihitungkan, dalam setahun ini, berapa kali kami harus menjawab pertanyaan: akan kalian habiskan kemana malam minggu ini? Atau kalimat: malam minggu kemarin kalian kemana?
Dalam setahun, kami akan menjawab kurang lebih 50 kali setiap orang bertanya ini. Buat kami, inilah anehnya, orang sangat senang mempertanyakan malam minggu orang lain. Pertanyaan berikutnya adalah apakah semua orang harus mempunyai pasangan untuk menghabiskan malam minggunya? Jika tidak ada pasangannya, apakah malam minggunya akan runtuh atau tidak baik-baik saja?
Karena buat saya, pertanyaan ini tak hanya sekedar ingin tahu apa yang kami lakukan di malam minggu, namun pertanyaan ini juga merujuk ingin tahunya mereka tentang siapa pasangan kami? Jika kami tak punya pasangan, apa salahnya?
Dari ibu saya, saya mendengar cerita bahwa tidak tahu bagaimana sejarah awal mulanya pentingnya malam minggu ini, namun dari ibu saya kecil, sudah ada pameo yang mengatakan bahwa malam minggu selalu identik dengan malam libur dimana banyak perempuan muda pergi dengan pasangan atau teman-temannya. Maka malam minggu selalu menyimpan pertanyaan penting bagi setiap orang: kamu mau kemana malam minggu ini?
Jadi buat saya, jika pertanyaan ini tidak mengganggu, maka akan saya jawab. Namun jika pertanyaan: kamu pergi ke mana malam minggumu nanti, ini mengganggu, maka saya biarkan saja pertanyaan ini, karena buat saya ini pertanyaan kepo, ingin tahu urusan orang dan menganggap orang lain selalu berpikir hal yang sama tentang malam minggu.
Malam minggu besok akan saya habiskan pergi ke pantai dengan kawan-kawan saya yang lain. Sebagai pekerja, ini merupakan refresihing yang luar biasa.
Apakah ini penting untuk menjawab: dimana malam minggumu? dimana pasanganmu? Buat saya, ini pertanyaan yang seharusnya hanya kita yang tahu, orang lain tak perlu tahu.
(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)
*Almira Ananta, pekerja kantoran di Jakarta yang hobby membaca dan Travelling
SEARCH
LATEST
3-latest-65px
SECCIONS
- Agenda HAM (1)
- Agenda Perempuan (6)
- catatan peristiwa (15)
- film (10)
- perempuan inspiratif (5)
- peristiwa (41)
- perspektif (58)
- Resensi Film (3)
Powered by Blogger.
Site Map
Kasus Aice: Dilema Buruh Perempuan Dan Pentingnya Kesetaraan Gender di Tempat Kerja
Para pekerja perempuan sedang bekerja di pabrik wig, Yogyakarta, 13 Desember 2019. RWicaksono/Shutterstock Aisha Amelia Yasmin , The Convers...
Popular Posts
-
ESB Professional/Shutterstock Ignacio López-Goñi , Universidad de Navarra Terlepas dari apakah kita menganggap coronavirus yang baru sebagai...
-
Para pekerja perempuan sedang bekerja di pabrik wig, Yogyakarta, 13 Desember 2019. RWicaksono/Shutterstock Aisha Amelia Yasmin , The Convers...
-
Empat hari lalu, sejumlah aktivis memprotes tulisan media yang beredar di sosial media. Tulisan di media itu menggambarkan bagaimana Lucint...
-
"Sering juga diledekin, udah tua, tapi kog enggak nikah-nikah. Sempat enggak bisa menerima diri sih, iri sama teman-teman yang heteros...
-
“Persepsi seksisme dan diskriminasi berdasarkan gender pernah dialami Ainun muda. Namun pandangan ini tak pernah menyurutkan Ainun untuk men...
-
"Dalam relasi pacaran, perempuan seringkali mendapat stigma negatif. Salah satu stigma yang sering dilekatkan kepada perempuan adalah: ...
-
Survei nasional pelecehan seksual di ruang publik menemukan bahwa moda transportasi umum adalah lokasi kedua tertinggi terjadinya pelecehan...
-
Christophe Petit Tesson/EPA Sarah L. Cook , Georgia State University ; Lilia M. Cortina , University of Michigan , dan Mary P. Koss , Univer...
-
Hisyam Luthfiana/EPA Rika Saraswati , Unika Soegijapranata Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada...
-
Household actions lead to changes in collective behaviour and are an essential part of social movements. (Pexels) Greg McDermid , University...
Total Pageviews
Home Top Ad
space iklan
Cari Blog Ini
Blog Archive
-
▼
2019
(61)
-
▼
November
(27)
- Pundi Perempuan: Datang ke Give Back Sale dan Bant...
- Mengapa Kita Harus Menolak Syarat Keperawanan pada...
- Frozen: Film Feminis, Bukan Cerita tentang Putri y...
- Masyarakat Meninggalkan Makanan Tradisional. Apa K...
- Perempuan Menghidupkan Pangan Lokal untuk Memutus ...
- Bagaimana Sejarah Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan ...
- Mengapa setiap 25 November Kita Memperingati Hari ...
- Ngobrol di Twitter tentang Janda
- 15 Anggota Komnas Perempuan Baru Periode 2020-202...
- Feminist Festival 2019 Dorong Narasi Kesetaraan Ge...
- Lowongan Pekerjaan yang Diskriminatif pada Disabil...
- Jakarta, Badai Hidup Saya Terjadi Ketika Ia Mening...
- Hari Transgender 20 November: Memperingati Hari An...
- Susi Susanti Love All, Diskriminasi Rasial pada At...
- Namaku Nanik Indarti, Aku Perempuan Bertubuh Mini
- Menjadi Bapak Rumah Tangga, Siapa Takut?
- Nicholas Saputra, Duta UNICEF Akan Menyuarakan Hak...
- Film-Film Perempuan Masuk Nominasi Festival Film D...
- Pekerja Rumah Tangga: Saya Tak Boleh Menggunakan L...
- Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Menj...
- Ibu Saya Janda: Merdeka dan Bahagia!
- Feminist of the Week: Ajak Mahasiswa Bicara Kekera...
- #SisterBerbicara: Bagaimana Melindungi Data Privas...
- Apakah Setiap Malam Minggu Semua Orang Harus Bersa...
- Mengajak Mahasiswa Kritis terhadap Media Melalui P...
- Iklan Properti tentang Janda, Sensasional dan Meng...
- Susi Susanti, Legenda Bulutangkis yang Memperjuang...
-
▼
November
(27)
Video Of Day
Flickr Images
Find Us On Facebook
VIDEO
ads
TENTANG KAMI
Labels
Tags 1
Labels Cloud
RECENT POST
3/recent/post-list
Recent Posts
4/recent/post-list
Konde's Talk
Pages
TENTANG KAMI
Pages
Tentang kami
Subscribe Us
In frame
recent/hot-posts




No comments:
Post a Comment