Susi Susanti, Legenda Bulutangkis yang Memperjuangkan Stop Diskriminasi Etnis
Susi Susanti tak hanya menjadi legenda bulutangkis dunia, namun juga menjadi perempuan yang berani, tulus mencintai Indonesia tanpa kehilangan semangat untuk memperjuangkan diskriminasi yang dirasakannya.
*Sari Mentari- www.Konde.co
Jakarta, Konde.co- Menolak menjadi balerina, Susi Susanti kecil mengincar hobi yang ditekuni kakak laki-lakinya, bermain bulutangkis.
Dari kecil, Susi memang tak menyukai balerina. Jika kakak laki-lakinya bisa bermain bulutangkis, mengapa anak perempuan sepertinya tidak?
Maka ketika Susi mendapatkan bully, dianggap tidak bisa bermain bulutangkis oleh anak laki-laki di desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat, Susi kemudian menantang anak laki-laki tersebut untuk bertanding bulutangkis. Dan Susi bisa membutikan sebagai pemenang pertandingan.
Itulah awal Susi Susanti bisa menyatakan pada ayah dan ibunya bahwa ia mencintai bulutangkis. Buku hariannya penuh dengan tulisan teknik bertanding dalam bulutangkis. Ayahnya kemudian menangkap dengan cepat keinginan Susi Susanti. Sejak itu Susi menjadi juara dalam beberapa pertandingan, seperti saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), Susi menang dalam World Championship Junior untuk 3 kategori sekaligus.
Maka ketika juara bulutangkis dunia, Rudy Hartono mengajaknya untuk bergabung dalam sekolah pelatnas yang dipimpinnya, Susi Susanti langsung mengiyakan dan berangkat ke Jakarta.
Di Jakarta inilah karir bulutangkis Susi Susanti sebagai juara dunia berawal. Tak hanya belajar untuk mandiri sejak kecil, dalam masa-masa inilah cerita tentang diskriminasi yang dialaminya juga dilawannya. Susi menjadi anak yang mandiri, mempunyai pendirian dan menolak diskriminasi yang diperlakukan padanya dan pada atlet keturunan China sesama pemain bulutangkis lainnya. Susi menjadi perempuan yang berani, bertaruh untuk mencintai Indonesia tanpa kehilangan semangat untuk memperjuangkannya.
Ini adalah cerita yang dialami legenda bulutangkis dunia yang tak banyak diketahui orang yang kemudian dipotret produser Daniel Mananta sebagai produser, Reza Hidayat dan Sim Batubara sebagai sutradara dalam film berjudul “Susi Susanti Love All”.
Dilatarbelakangi oleh pemerintahan orde baru yang anti dengan komunisme dan China, maka disanalah segalanya berawal. Ingin membuktikan sebagai negara yang mampu mempunyai prestasi di kancah internasional namun tak mau mengakui atlet-atlet keturunan China yang mendatangkan prestasi sebagai warga negara. Begitu peliknya pemerintahan orde baru di tahun 1980an lalu dan banyaknya peraturan diskriminasi yang dikeluarkan.
Diskriminasi ini terus menjadi nafas dalam film ini, selain pertemuan antara Susi Susanti (Laura Basuki) bersama pacar yang menjadi suaminya saat ini, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko). Betapa keinginan kuatnya Susi Susanti bersama atlet bulutangkis untuk menjadi juara dalam berbagai kesempatan dunia mewakili Indonesia, namun ternyata mencintai dan berkorban untuk Indonesia tak pernah cukup. Diskriminasi yang mereka alami, tak diakui sebagai warga negara Indonesia adalah pergolakan panjang dalam hati Susi. Di satu sisi pemerintahan Soeharto menginginkannya untuk selalu menjadi juara, namun di sisi lain tak mau memberikan surat kewarganegaraan baginya dan atlet bulutangkis lain.
Walaupun dalam perjalanannya, Susi Susanti kemudian menjadi juara Piala Sudirman untuk ganda perempuan di tahun 1989 dan dalam 4 kali juara di all England, prestasi yang jarang diraih oleh pemain bulutangkis di masa itu. Itu sebabnya Susi menjadi legenda.
Sebagai sebuah film, film “Susi Susanti Love All” ini berhasil menangkap hal-hal yang dirasakan para atlet, namun sayang masih ragu dalam mengambil beberapa proses dramatik yang dialami, seperti ketika pergolakan Susi Susanti atas diskriminasi yang diterima keluarganya kurang dieksplorasi. Atau hal lain dalam mengekplorasi isi hati Susi Susanti ketika beberapakali menjadi juara dunia, salah satunya ketika momentum pertandingan di Barcelona dimana Susi Susanti menangis berdiri di depan bendera Indonesia. Juga hal lain seperti bagaimana tempaan pada para atlet yang sangat keras untuk menjadi juara, ini terlihat kurang dalam adegan-adegan di dalam film. Padahal pengalaman-pengalaman ini merupakan pengalaman dramatik yang sering dialami para pemain bulutangkis.
Namun secara umum, ini merupakan film yang sangat penting bagaimana kebijakan negara yang diskriminatif berimbas pada kondisi para atlet yang selama ini belum banyak diekplorasi.
(Foto: 21cineplex.com)
*Sari Mentari, penulis dan dosen, tinggal di Jogjakarta
SEARCH
LATEST
3-latest-65px
SECCIONS
- Agenda HAM (1)
- Agenda Perempuan (6)
- catatan peristiwa (15)
- film (10)
- perempuan inspiratif (5)
- peristiwa (41)
- perspektif (58)
- Resensi Film (3)
Powered by Blogger.
Site Map
Kasus Aice: Dilema Buruh Perempuan Dan Pentingnya Kesetaraan Gender di Tempat Kerja
Para pekerja perempuan sedang bekerja di pabrik wig, Yogyakarta, 13 Desember 2019. RWicaksono/Shutterstock Aisha Amelia Yasmin , The Convers...
Popular Posts
-
ESB Professional/Shutterstock Ignacio López-Goñi , Universidad de Navarra Terlepas dari apakah kita menganggap coronavirus yang baru sebagai...
-
Para pekerja perempuan sedang bekerja di pabrik wig, Yogyakarta, 13 Desember 2019. RWicaksono/Shutterstock Aisha Amelia Yasmin , The Convers...
-
Empat hari lalu, sejumlah aktivis memprotes tulisan media yang beredar di sosial media. Tulisan di media itu menggambarkan bagaimana Lucint...
-
Christophe Petit Tesson/EPA Sarah L. Cook , Georgia State University ; Lilia M. Cortina , University of Michigan , dan Mary P. Koss , Univer...
-
Household actions lead to changes in collective behaviour and are an essential part of social movements. (Pexels) Greg McDermid , University...
-
"Cerita tak bahagia dari buruh perempuan sudah sering saya dengar dari pabrik. Namun, cerita yang ini dari Irfa, sahabat saya ketika ka...
-
*Poedjiati Tan- www.Konde.co Jakarta, Konde.co- Jurnalis adalah pekerja yang banyak berada di tengah kerumunan. Mereka berada di kerumunan m...
-
"Sering juga diledekin, udah tua, tapi kog enggak nikah-nikah. Sempat enggak bisa menerima diri sih, iri sama teman-teman yang heteros...
-
Feminist Alliance for Rights (FAR), sebuah koalisi dari beragam organisasi feminis, pembela hak perempuan dan keadilan sosial serta komunita...
-
Co-working space telah menjadi sebuah cara yang innovative untuk bekerja diluar kantor pusat tanpa menjadi bekerja sendiri di rumah. (Shutte...
Total Pageviews
Home Top Ad
space iklan
Cari Blog Ini
Blog Archive
-
▼
2019
(61)
-
▼
November
(27)
- Pundi Perempuan: Datang ke Give Back Sale dan Bant...
- Mengapa Kita Harus Menolak Syarat Keperawanan pada...
- Frozen: Film Feminis, Bukan Cerita tentang Putri y...
- Masyarakat Meninggalkan Makanan Tradisional. Apa K...
- Perempuan Menghidupkan Pangan Lokal untuk Memutus ...
- Bagaimana Sejarah Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan ...
- Mengapa setiap 25 November Kita Memperingati Hari ...
- Ngobrol di Twitter tentang Janda
- 15 Anggota Komnas Perempuan Baru Periode 2020-202...
- Feminist Festival 2019 Dorong Narasi Kesetaraan Ge...
- Lowongan Pekerjaan yang Diskriminatif pada Disabil...
- Jakarta, Badai Hidup Saya Terjadi Ketika Ia Mening...
- Hari Transgender 20 November: Memperingati Hari An...
- Susi Susanti Love All, Diskriminasi Rasial pada At...
- Namaku Nanik Indarti, Aku Perempuan Bertubuh Mini
- Menjadi Bapak Rumah Tangga, Siapa Takut?
- Nicholas Saputra, Duta UNICEF Akan Menyuarakan Hak...
- Film-Film Perempuan Masuk Nominasi Festival Film D...
- Pekerja Rumah Tangga: Saya Tak Boleh Menggunakan L...
- Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Menj...
- Ibu Saya Janda: Merdeka dan Bahagia!
- Feminist of the Week: Ajak Mahasiswa Bicara Kekera...
- #SisterBerbicara: Bagaimana Melindungi Data Privas...
- Apakah Setiap Malam Minggu Semua Orang Harus Bersa...
- Mengajak Mahasiswa Kritis terhadap Media Melalui P...
- Iklan Properti tentang Janda, Sensasional dan Meng...
- Susi Susanti, Legenda Bulutangkis yang Memperjuang...
-
▼
November
(27)
Video Of Day
Flickr Images
Find Us On Facebook
VIDEO
ads
TENTANG KAMI
Labels
Tags 1
Labels Cloud
RECENT POST
3/recent/post-list
Recent Posts
4/recent/post-list
Konde's Talk
Pages
TENTANG KAMI
Pages
Tentang kami
Subscribe Us
In frame
recent/hot-posts




No comments:
Post a Comment